Oleh: Dra. Rahmisari
Penyuluh KB Ahli Madya Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur
Sumber thumbnail : freepik.com
Lansia menduduki persentase tertinggi pada kelompok usia yang memiliki gigi hilang yaitu sebesar 30,6% (Riskesdas, 2018). Kesehatan dan kesejahteraan hidup yang baik sejak dalam kandungan dapat mewujudkan lansia tangguh. Pedoman lansia tangguh berdasarkan The International Council on Active Aging (ICAA) dengan indikator 7 dimensi yang mencakup spiritual, intelektual, fisik, emosional, sosial kemasyarakatan, vokasional, dan lingkungan.
Kelompok lansia secara alami mengalami kemunduran fisik, biologis, mental, maupun sosial sehingga memerlukan perhatian lebih di bidang kesehatan, terlebih pada rongga mulut dan gigi. Untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut pada lansia walaupun sudah banyak gigi yang hilang yaitu dengan menyikat gigi pada pagi dan malam sebelum tidur. Dengan begitu kondisi gusi dan jaringan periodontal akan tetap terjaga kesehatannya. Lansia juga dianjurkan untuk mengunjungi dokter gigi secara rutin minimal 6 bulan sekali (Auli, 2020). Perubahan yang terjadi pada proses penuaan pada seseorang seringkali ditandai dengan perubahan struktur jaringan di dalam rongga mulut, terutama dalam hal kehilangan gigi. Gigi sangat penting bagi manusia dan rentan rusak sebab sering digunakan. Terjadinya kehilangan gigi dapat disebabkan oleh faktor penyakit dan bukan penyakit. Faktor penyakit yaitu karies dan penyakit periodontal. Faktor bukan penyakit adalah usia, jenis kelamin, gaya hidup, dan sebagainya. Persentase gigi rusak, berlubang, ataupun sakit lebih tinggi pada jenis kelamin perempuan yaitu 45,7% daripada laki-laki (Riskesdas, 2018). Kehilangan gigi cenderung meningkat sejalan dengan pertambahan usia akibat kumulatif karies dan penyakit periodontal (Siagian, 2016). Kondisi kehilangan gigi yang dibiarkan dapat memperburuk kesehatan dan mempengaruhi emosional. Oleh karena itu, perlu segera dibuatkan gigi tiruan.

Foto oleh highlight.id
Gigi tiruan pada dasarnya dibuat untuk mengembalikan fungsi pengunyahan, bicara, estetika, dan mencegah kerusakan lebih buruk dalam rongga mulut. Gigi tiruan banyak jenisnya. Kelompok lanjut usia kebanyakan menggunakan jenis Gigi Tiruan Lengkap Lepasan (GTLL) ataupun Gigi Tiruan Sebagian Lepasan (GTSL). Gigi tiruan harus dirawat dan dijaga sesuai prosedur. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Falatehan (2020) perilaku pembersihan GTL pada lansia perempuan lebih baik dibandingkan lansia laki-laki. Edukasi perawatan dan pemeliharaan harus diberikan kepada pasien dan keluarga pasien. Penggunaan gigi tiruan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup lansia sehingga terwujudlah lansia tangguh.
Referensi :
Auli, I., Mulyanti, S., Insanuddin, I., Supriyanto, I. (2020). Gambaran Kondisi Kesehatan Gigi Dan Mulut Pada Lansia Di Beberapa Kota Indonesia. Jurnal Kesehatan Siliwangi, 1(1), 79-85.
Falatehan, N., Andreas, R. (2020). Perilaku Pembersihan Gigi Tiruan Lengkap Pada Lansia. JKGT: Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu, 2(1), 64-67.
Riskesdas, 2018.
Siagian, K. V. (2016). Kehilangan sebagian gigi pada rongga mulut. E-CliniC, 4(1).
Isi naskah artikel yang dimuat pada Golantang seluruhnya menjadi tanggungjawab penulis atau di luar tanggungjawab panitia